Pilot

Bonjour!

Why Pilot? Well, if you followed the Hollywood TV series, every first episode is called “The Pilot Episode” Because this is my very first post, so I’m gonna titled this post with Pilot.

I have to write again after two years of hiatus. I really missed writing. I spent my time too much in my job. Now, I got bored with my job. So I started to write again. I really hope that I can write consistently.

I have to write again because I have too many thoughts in my head, I’m afraid if I don’t speak it out, or at least write it out, my head will be exploded. LOL.

Thank you for spending your two minutes to read this. I hope you like it. Wait for my next post.

Au Revoir~

Piala Yang Terus Mengembara

Screenshot_20170518-193106

Teman-teman sekalian, apakah kalian mengenali piala di atas?
Apakah kalian tahu apa bentuk bagian atas dari piala tersebut?

Bagi kalian pecinta bulutangkis, saya rasa kalian tahu jawabannya.

Ya, itu adalah Piala Sudirman dan bentuk bagian atas piala tersebut adalah Candi Borobudur.

Kejuaraan Sudirman adalah pergelaran bulutangkis bergengsi dua tahunan, namanya sendiri diambil dari salah satu pendiri PBSI yaitu Dick Sudirman. Kejuaraan ini pertama kali digelar pada tahun 1986 di Indonesia dimana kitalah yang menjadi kampiunnya.

Gelar pemenang Kejuaraan Sudirman satu-satunya.

Sejak tahun 1986 piala itu tak kunjung kembali ke pelukan ibu pertiwi, rupanya dia gemar mengembara ke negara lainnya. Dia sangat betah di pelukan negeri Tiongkok, tak tanggung-tanggung, dia sudah mampir ke negeri tirai bambu itu sebanyak sepuluh kali.
Tidakkah engkau rindu kepada kami, Pak? Tanah kelahiranmu. Tempat dimana dirimu berasal. Sudah tiga puluh satu tahun kau mengembara, kami pikir tahun ini adalah tahun dimana kau akan pulang ke pelukan ibu pertiwi.

Tapi ternyata tidak.

Atau belum.

Menang Tapi Kalah

Kita memenangkan pertandingan, tapi kita kalah dalam perang.

Skor akhir 3-2 tidak cukup untuk mengantar kita ke babak perempat final. Untuk pertama kalinya, Indonesia tersingkir di penyisihan grup kejuaraan sudirman. Sebuah catatan yang tak bisa dibanggakan setelah track record kita selama ini cukup baik.

Sepertinya kami harus menahan rindu kami lebih lama lagi ya, Pak. Rupanya Bapak belum mau diajak pulang oleh putra-putri terbaik kita saat ini. Rupanya Bapak masih ingin mengembara lagi. Bapak pasti ingin melihat putra-putri kita berusaha lebih keras lagi, ya kan?

Ada rasa sedih, kecewa dan marah saat putra-putri terbaik kami gagal membawamu pulang. Terlebih kami harus dua kali dikalahkan oleh lawan yang sama di kejuaraan beregu yang berbeda (Saya masih susah move on dari hasil final Piala Thomas 2016 antara Indonesia dan Denmark). Rasanya seperti membuka luka lama.

Mereka bilang ini adalah skuad terbaik Indonesia. Saya setuju dengan pernyataan ini.
Mereka bilang kita harus beregenerasi dengan pemain muda, lagi-lagi saya setuju dengan pernyataan ini. Dan inilah buktinya. Hampir separuh (atau mungkin lebih) dari skuad Indonesia berisi pemain-pemain muda.

Absennya nama Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir menjadi awal proses regenerasi kita. Setelah sekian tahun kedua nama tersebut selalu menjadi garda terdepan skuad kebanggaan kita, kini kita harus mulai terbiasa tanpa nama mereka. Inilah proses.

Kemarin, sebelum saya menyaksikan laga penentuan antara Indonesia dan Denmark, saya sempat pesimis. Jujur, saya sangat pesimis. Melihat jajaran pemain yang diturunkan Denmark, hampir semuanya pemain yang bertengger di 10 besar dunia. Pemain-pemain senior dengan segudang prestasi dan pengalaman. Saya pikir kita tidak akan bisa mengalahkan mereka.

Untungnya saya salah. Ternyata saya terlalu mengunderestimate kemampuan putra-putri terbaik kita. Mereka tampil diluar prediksi saya. Dan itu membuat saya sangat bangga. Kejuaraan Sudirman 2017 ini benar-benar membuka mata saya akan potensi yang dimiliki Indonesia. Melihat mereka bertanding kemarin membuat saya percaya, bahwa kita masih bisa menjadi juara, jika kita mau berusaha.

I believe they can, because they’re firework.

Baby, you’re a firework.
Come on show ‘em what you’re worth
Make ‘em go “oh oh oh”
As you shoot across the sky

Tunjukkan kehebatanmu, buat mereka terpukau saat kau berada di puncak tertinggi.

Kepada seluruh tim, terima kasih sudah berjuang. Jadilah kembang api kebanggaan Indonesia.

Untuk Piala Sudirman, selamat mengembara lagi, Pak.

Lihatlah dunia sebelum kembali ke pelukan ibu pertiwi dua tahun lagi.

Being A Legend

P_20170516_182056\

I’ve been reading books of old

The legend and the myths
Archilles and his gold
Hercules and his gifts
Spiderman’s control
And Batman with his fists
And clearly, I don’t see myself upon that list

Something Like This – The Chainsmokers ft Coldplay

****

Have you ever thought about how you’re gonna be remembered when you’re gone?

Me? Frequently.

That song above randomly played on my Youtube playlist. Not the one which is being popularised by The Chainsmokers and Coldplay. But the one which is sung by cover artist Madilyn Bailey and Alex Goot. I never like the original version of this song (Please forgive me, Chris Martin. LOL).

Idk why, maybe because it’s too EDM. It’s not my genre, actually. But when I heard the very first tune of Madilyn’s, I fell in love. It is like, she is singing right to my heart, and I’m really touched by the lyrics. It is so deep and meaningful. Did you feel this song like the way I did?

Back to my first question, have you ever thought about how you’re gonna be remembered when you’re gone?

When Michael Jackson died, everyone will remember him as King of Pop.

When Alan Rickman died, everyone knows that he was perfectly played Professor Snape in Harry Potter

When JRR Tolkien died, everyone memorize him with his masterpiece “The Lord Of The Rings”

How me? How about you? How about the ordinary people just like us? What is your biggest achievement? What is your greatest compliment?

Be a legend, like this song told you.
Archilles and his gold. Hercules and his gifts. Spiderman’s control. Batman with his fists.

I never did something’s proud of myself. I have no talent and I have nothing to be proud of. Or yet. This makes me wonder. One day, when I’m dead. No one will remember me except my family and my friends, I guess. People won’t talk about me. Or worst, people will never know that I have alive. This is miserable.

She said, “Where’d you wanna go? How much you wanna risk?”

I wanna be remembered. I wanna be a legend. But, how can I do that? Am I brave enough to take a risk in order to fulfil what I want?

I was a girl with a big dream. Was. As I grew up, the reality had killed my dream piece by piece. Till I’m too afraid to have another big dream. How cruel it is, right?

I want something just like this

Slowly, I begin to build my confidence once again. I’m ready to build my big dream once again.I want to be a writer. I won’t stop writing. I missed writing so much. I’,m really regretted to let my job buried my writing skill. I think, this time, I’m ready to take a risk. I’m ready to sacrifice what I must sacrifice to fulfil my dream.

I wanna be a legend for myself. One day, I will have a book with my name written on the first page, either as an author or a translator.

Oh, by the way, please enjoy Madilyn’s Cover of Something Like This.

Something Like This – Madilyn Bailey and Alex Goot Cover

Cahaya Purnama di atas Balaikota

IMG_20170510_070439

 

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

*********

Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki selalu menjadi lagu nasional favorit saya. Selain iramanya yang indah, liriknya juga sangat mencerminkan Indonesia. Sudah cukup sering saya merasa terharu saat mendengarkan paduan suara menyanyikan lagu ini. Indah dan megah.

Lagi-lagi saya terharu dibuatnya, baru-baru ini. Kala menyaksikan video dari sekumpulan orang yang menyanyikan lagu ini di balaikota beberapa hari yang lalu. Entah kenapa saya merinding. Saya terbawa atmosfer, seolah-olah saya berada di sana.

Memang tak sesempurna saat saya mendengar lagu ini di paduan suara dulu. Beberapa dari sekumpulan ini mungkin buta nada, beberapa orang lagi mungkin tak pernah bernyanyi di muka umum seperti ini. Tapi bukan itu esensinya. Jika kita menilik lebih jauh, memperhatikan lebih dalam, sekumpulan ini mungkin tak saling mengenal satu sama lain, berbeda latar belakangnya, entah apakah mereka pekerja profesional, pekerja lepas, atau hanya orang yang sekedar lewat namun menyempatkan mampir karena penasaran.

Perbedaan. Keanekaragaman. Itu esensinya.

Mereka yang tak saling mengenal, tua-muda, pria-wanita, pribumi-keturunan, mereka semua bersatu padu untuk memberikan dukungan kepada orang yang mereka cintai. Kini tak tampak perbedaan bagi saya, sekumpulan orang itu sama. Mereka adalah orang-orang yang mendukung.

Pak Basuki Tjahaja Purnama, what the world have done to you?

Saya tak pernah mengerti tentang politik atau hukum. Pendidikan kewarganegaraan bukanlah pelajaran favorit saya dulu. Tapi saya rasa saya tak perlu menjadi seorang ahli politik atau ahli hukum untuk dapat mengagumi Bapak.

Entah kenapa hati saya sedih sekali kala mendengar vonis Bapak.

Saya memang bukan warga Bapak, tapi saya turut menikmati hasil kerja Bapak. Setiap Senin sampai Jumat saya menyambangi Jakarta, melalui beberapa tempat yang merupakan buah karya Bapak. Entah kenapa saya merasa senang. Mungkin kini, saat saya melewati tempat-tempat itu untuk kesekian kalinya, perasaan yang ditimbulkan berbeda. Sedih dan menyangkal.

Mengapa?

Mengapa sulit sekali mendapatkan maaf dari mereka? Mengapa hal seperti ini harus menimpa Bapak? Mengapa hasil kerja Bapak selama beberapa tahun terakhir seolah tertutup oleh satu kesalahan.

Kemarau setahun terhapus hujan sehari. Begitu pepatahnya bukan?

Kalian lihat gambar di atas? Sketsa itu dibuat oleh salah satu pengguna Twitter dengan username @motulz. Saya jatuh cinta dengan gambar itu sejak pertama melihatnya. Entah kenapa terasa begitu dalam maknanya. Terima kasih untuk Mas Motulz untuk gambar indahnya dan mengizinkan saya untuk memposting gambar tersebut di blog ini.

Pak, saya tahu Bapak pasti tegar. Bapak pemberani. Bapak memiliki hati yang besar. Bapak adalah ksatria. Tolong jaga agar kepalamu tetap tegak, Pak. Bapak tahu bahwa Bapak tak pernah sendirian.

Teruntuk Ibu Vero, Nicholas, Tania dan Daud. Tolong, jangan pernah menyalahkan siapapun karena terlahir dengan apa yang “mereka” sebut “minoritas”. Jujur, saya sekarang agak sensitif dengan kata “Mayor” dan “Minor”. Bagi saya semua sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Mengutip dari salah satu pengguna Twitter lagi yang saya lupa apa usernamenya, yang isinya :

” Dalam tangga nada, bila nada mayor dan nada minor disatukan, akan menciptakan harmoni yang indah. Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Mengapa kita tidak membuat Indonesia menjadi lagu yang indah? Bagaimama menurutmu?”

Nicholas, Tania dan Daud, saya percaya ayah kalian selalu mengajarkan bagaimana untuk bersikap ksatria. Tegarlah, kuatlah, bangkitlah. Jangan pernah benci siapapun karena masalah ini. Jadilah ksatria.

Tuhan kita berbeda, tapi saya rasa kita setuju kalau Tuhan di semua agama mengajarkan kebaikan kan, Pak? Untuk itu saya akan selalu berdoa agar Dia selalu melindungi, memberi kesehatan dan ketabahan bagi Bapak dan keluarga. Amin.

Cahaya purnama di atas balaikota menjadi saksi bagaimana salah satu putra terbaik bangsa terluka.

Cahaya purnama di atas balaikota menjadi saksi bahwa masih ada banyak orang yang mendukungnya.

Tuhan, tolong jaga agar cahaya purnama itu tetap ada.

Tiga Cup Es Krim Vanilla

mcflurry

 

Enam Mei Dua Ribu Tujuhbelas.

Di Sabtu siang nan terik, ketiga sahabat berjalan memasuki sebuah gerai makanan cepat saji. Merasa tak begitu lapar, ketiganya hanya membeli es krim. Sementara yang dua sibuk mencari meja yang kosong, yang satu lagi antri di konter pemesanan.

Terlintas di pemikiran yang satu, sepertinya akan lebih asyik jika ada sesuatu untuk dimakan. Kemudian dia menambahkan seporsi kentang goreng ke dalam pesanannya. Tak lama kemudian, ketiganya duduk.

Awalnya terasa canggung, di tengah keramaian orang yang tengah menyantap makan siang itu, ketiganya tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Tak lama kemudian, datanglah yang keempat. Mampir menghampiri ketiganya dengan dalih menunggu dijemput sang belahan jiwa. Dia merupakan seorang teman. Dia adalah teman yang ketiganya sudah anggap layaknya seorang kakak. Syukurlah dia datang, ketiganya jadi punya sesuatu untuk dibahas. Kemudian ketiganya menjadikan yang keempat seolah-olah bintang tamu.

Namun yang keempat tidak berlama-lama tinggal, sang belahan jiwa telah menantinya.

Sepeninggal yang keempat, pembicaraan mengalir begitu saja. Sambil sesekali menyendok es krim atau mengunyah kentang goreng, bergantian ketiganya bercerita. Yang dua orang bercerita, betapa mereka mulai bosan menjalani bangku perkuliahan. Betapa mereka mulai dihinggapi rasa jenuh kala mengejar titel sarjana. Sementara yang satu mulai jengah dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang sesungguhnya tidak diminatinya sama sekali. Sesungguhnya yang dicintainya adalah buku dan hewan dan musik dan dunia panggung pertunjukkan.

Tapi yang satu ini terlalu takut untuk meninggalkan pekerjaannya yang sekarang. Sesungguhnya yang satu sangat iri kepada kedua temannya ini. Dia sangat iri akan bagaimana kedua temannya ini bisa memiliki waktu khusus untuk dirinya sendiri, tanpa harus khawatir memikirkan apapun yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Yang satu kini sudah berusia dua puluh dua tahun, tetapi jarak paling jauh yang pernah dicapainya seorang diri hanyalah sebatas Tangerang Selatan saja. Dan hatinya mulai gundah. Mulai berontak. Mulai menyuarakan bahwa sudah saatnya menjadi diri sendiri. Mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tanpa disadari oleh kedua temannya yang lain, mereka sudah memberikan keberanian kepada yang satu ini.

Obrolan berlanjut, menerawang jauh ke masa depan. Tentang bagaimana kami akan menghabiskan waktu bersama pasangan kita kelak. Tentang bagaimana menyenangkannya bila kita memiliki pasangan dengan kesamaan minat dan hobi. Kemudian ketiganya mengkhayal.

Yang satu berharap agar Ia dan pasangannya kelak bisa melakukan pendakian gunung bersama.

Yang satu berharap agar Ia dan pasangannya senang diajak berbelanja dan berwisata kuliner layaknya dirinya.

Yang satunya lagi berharap agar Ia dan pasangannya kelak bisa diajak “menggila” akan hal yang mereka sukai.

Mereka bisa nonton pertunjukkan sampai terhanyut ke dalam ceritanya, kemudian terjaga sampai pagi sambil mengulang keseluruhan pertunjukkan itu secara verbal. Yang satu ini memang pengkhayal tingkat tinggi. Dan dia ingin mewujudkan khayalannya itu bersama pasangannya kelak.

Tapi kemudian ketiganya menyadari satu hal, bahwa sejatinya pasangan itu harus saling melengkapi perbedaan. Terkadang terlalu banyak persamaan justru akan menumbuhkan sifat destruktif. Satu hal yang dimengerti oleh ketiganya adalah ; bahwa sejatinya pasangan itu adalah seseorang yang selalu mendukungmu, tak peduli seberapa jauh perbedaan itu.

Begitulah, tiga cup es krim vanilla dan seporsi kentang goreng menjadi saksi curahan hati ketiga gadis remaja akhir ini. Masing-masing dari mereka mengutarakan masalahnya, namun tak seorangpun yang menawarkan solusi. Kadang memang yang kita semua cari bukanlah solusi. Melainkan tempat, waktu dan sosok  yang mau mendengarkan tanpa perlu dikomentari atau merasa terhakimi. Kadang yang kita butuhkan hanyalah didengarkan. Dan kadang yang mereka harus lakukan hanyalah mendengarkan.

Yang satu sangat berterimakasih kepada kedua lainnya yang bersedia mendengarkan. Yang satu akan selalu menunggu momen seperti ini di lain kesempatan. Entah apa yang akan menjadi saksinya kelak. Apakah cup-cup es krim yang lain? Atau justru semangkuk mie rebus yang menghangatkan? Kita tak tahu. Dan tak akan pernah tahu sampai momen itu tiba.

 

*Postingan ini didedikasikan untuk Novia Jayanti dan Kirana Atika Rahmadani karena telah menjadi pendengar yang baik untuk yang satu*