Pilot

Bonjour!

Why Pilot? Well, if you followed the Hollywood TV series, every first episode is called “The Pilot Episode” Because this is my very first post, so I’m gonna titled this post with Pilot.

I have to write again after two years of hiatus. I really missed writing. I spent my time too much in my job. Now, I got bored with my job. So I started to write again. I really hope that I can write consistently.

I have to write again because I have too many thoughts in my head, I’m afraid if I don’t speak it out, or at least write it out, my head will be exploded. LOL.

Thank you for spending your two minutes to read this. I hope you like it. Wait for my next post.

Au Revoir~

Advertisements

Two Friends on A Perfect Day

Sebelumnya, aku ingin memberikan semacam warning buat kalian. Ini akan menjadi postingan yang cukup panjang. Jika kalian benar-benar “pembaca” silakan dilanjut. Jika bukan, jangan sia-siakan lima menit kalian. LOL.

Sekitar sebulan yang lalu, aku tak sengaja membaca sebuah tweet yang cukup “menarik”. Berikut cuplikannya :

Screenshot_20170903-204500_1

Aku termasuk orang yang introvert. Aku tidak suka bertemu dengan banyak orang. Bahka, aku cenderung menghindari orang banyak. Karena itulah, aku tak memiliki banyak teman. Mungkin, jumlah jari tanganku saja masih terlalu banyak untuk menghitung jumlah “teman-temanku”.

Ada perasaan “miris” ketika aku membalas tweet tersebut. Entah karena kesepian, atau iri ketika melihat orang-orang memiliki banyak teman. Kuakui, aku memang bukan tipe teman yang akan langsung “disukai” pada saat pertama bertemu. Sebaliknya, orang-orang akan dengan mudahnya mengabaikanku. Jangan khawatir, itu sering terjadi sejak cukup lama. Kini, aku menjadi terbiasa.

Aku pernah membaca, entah di mana, bahwa kualitas seorang temanlah yang harus kau perhitungkan, bukan kuantitasnya. Kini aku sudah memiliki dua teman yang “berkualitas” dan sedang berusaha untuk, paling tidak menggandakan jumlahnya.

Oh iya, kepada dua orang yang sangat mulia itu. Mereka berdua akan tahu bahwa merekalah yang aku maksud pada jawaban tweet di atas.

Hari ini, aku akan mendedikasikan postinganku untuk salah satu dari mereka.

Okey, sebelum lanjut. Bolehkah aku meminta kalian untuk mengklik link berikut. Link tersebut akan menghubungkan kalian ke sebuah laman Youtube yang memuat sebuah lagu. Sudikah kalian mendengarkan lagu itu?

Two Voices One Song

Terima kasih.

Selanjutnya aku akan bercerita. Cerita di balik lagu itu.

Sejak kecil, aku memang sudah terpengaruh dengan soundtrack-soundtrack film. Terutama film bergenre musikal. Lagu tersebut adalah salah satu soundtrack dari film Barbie yang berjudul The Diamond Castle.Mungkin kalian pernah menontonnya. Entah mengapa, aku begitu mudahnya terkoneksi dengan lagu-lagu semacam ini. Mungkin kalian pikir ini hanya lagu anak-anak. Tetapi, saat dewasa , entah kenapa aku menyadari bahwa lagu-lagu semacam ini begitu deeply meaningful (percaya atau tidak, beberapa waktu lalu aku sempat menitikkan air mata saat tanpa sengaja mendengar lagu Written In Your Heart).

Dulu, semasa SMP, aku dan salah seorang teman aku kerapkali menyanyikan lagu ini. Kala menyanyikannya kami bahkan membagi suara layaknya penyanyi aslinya (waktu itu suaraku masih bagus, menurut pengakuan teman aku ini. Entah meledek atau sungguh-sungguh).

Ada sepenggal lirik yang sangat relevan dengan dirinya.

It’s so rare to find a friend like you

Dan

The way you talk, the things you say, the way you make it all okay.

And how you know all of my jokes, but you laughs anyway

Aku tidak bisa mendeskripsikan ini, tapi jika kalian memiliki teman seperti ini, kalian pasti mengerti apa yang kumaksud.

Haha, sudah mulai capek bacanya? Remember, I’ve warned you before. Hehehe.

Tahun demi tahun berganti, dan lagu itu sudah mulai kami lupakan. Tapi kemudian tanpa sengaja lagi, aku mendengar sebuah soundtrack pertunjukan musikal yang sangat menyentuh. Pertama kali aku mendengar lagu ini, aku langsung teringat akan temanku ini.

Ini lagunya.

For Forever – Dear Evan Hansen Soundtrack

Bagiku ini bukan sekedar lagu. Tapi ini kisah. Sedikit banyak kisah pertemanan yang kami jalani terkoneksi dengan lirik lagu ini.

End of May or Early June

This picture perfect afternoon we shared

Drive the winding country road

Grab a scoop at A La Mode

And then we’re there

Tidak, kita tidak pernah berkendara menuju pedesaan. Kita hanya pergi ke pasar. Dan ke kantor penerbitan Koran. Dan ke swalayan. Hanya itu. Percaya atau tidak, banyak hal yang kudapat lewat situ.

An open field that’s framed with trees

We pick a spot and shoot the breeze

Like buddies do

Kita juga tidak melakukan ini. Namun kita senang duduk-duduk di atap rumah kostmu  yang panas, tapi entah kenapa, kita senang melakukannya.

Quoting songs by our favorite bands

Telling jokes no one understands

Except us two

And we talk and take in the view

Ingat kan, kita seringkali memaknai dan mengutip sebuah lagu. Lalu bagaimana dengan percakapan-percakapan absurd yang kita miliki? Yang aku yakin, jika orang lain membacanya, mereka pikir kita pantas untuk konsultasi ke psikiater.

All we see is sky for forever

Let the world pass by for forever

Feels like we could go on for forever this way

Two friends on a perfect day

Dan semua terasa sempurna

We walk a while and we talk about

The things we’ll do when we get out of school

Bike the Appalachian trail

or Write a book Or learn to sail

Wouldn’t that be cool

Kita adalah perencana. Ingatkah kau akan bagaimana kita berencana meneruskan hidup ke depannya, padahal saat itu kita masih SMP. Kita berbicara akan potensi yang kita miliki. Kita berbicara akan cita-cita. Cita-cita yang sangat berani. Ah, dulu kita begitu naifnya mengantungkan cita-cita setinggi angkasa. Dan sekarang terasa sangat menyakitkan saat mengetahui bahwa realita perlahan “membunuh” segala cita-cita kita.

There’s nothing that we can’t discuss

Like girls we wish would notice us but never do

He looks around and says to me

“There’s nowhere else I’d rather be”

I say “me too”

Kau selalu tahu bagaimana caranya membuka dan menjaga agar pembicaraan terus berlanjut. Bahkan, tak jarang arah pembicaraan kita tak tentu arah.

Apakah kau ingat bagaimana saat kecil dulu, dengan sombongnya kita berkata bahwa kita tak cocok di sini. Betapa kita layak untuk tinggal di negara yang lebih maju. Ah, aku merindukan “kesombongan” masa kecil kita.

And there he goes

Racing toward the tallest tree

From far across the yellow field I hear him calling “follow me”

And there we go

Wondering how the world might look from up so high

One foot after the other

One branch then to another

I climb higher and higher

I climb until the entire

Sun shines on my face

Dan inilah, bagian bridges yang membuat aku merinding.

Entah mengapa, aku merasa ini adalah analogi dari pertemanan kita.

Kita berteman. Kita bersaing.

Namun kau tak pernah meninggalkanku di belakang,

Tiap kali kau menemukan jalan menuju sesuatu yang bagus, kau selalu mengajakku.

Kau mengajakku untuk melangkah. Beriringan. Bahu membahu. Saling mendukung.. Sampai kita menemukan apa yang kita cari.

And I suddenly feel the branch give way

I’m on the ground

My arm goes numb

I look around

And I see him coming to get me

He’s coming to get me

And everything’s okay

Satu doa yang selalu kupanjatkan padamu adalah : agar Tuhan senantiasa menjaga kesehatanmu.

Mengapa?

Karena aku ingin kau ada untuk mendukungku di saat aku berada di titik terendahku kelak. Aku tak ingin kau menyelesaikan masalah apapun yang mungkin akan kudapat kelak. Tapi aku ingin kau ada untuk mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Karena aku tahu aku tak akan mampu menhadapinya sendirian. Aku tak sekuat dirimu

Two friends

True friends

On a perfect day

Terima kasih sudah mau berteman denganku 🙂

Mungkin tak akan ada teman-teman yang mau membuatkan bridal shower saat aku akan menikah nanti. Atau menyiapkan kejutan ulang tahun di tengah malam saat aku ulang tahun nanti. Atau memesan buket bunga saat aku wisuda nanti.

Tapi aku tahu, bahwa akan ada dua orang yang pasti hadir saat pemakamanku nanti. Dan kau adalah salah satunya.

So, Bunga Andriana, You are my person.

She is my person. If I murdered someone, she is the person I would call to help me drag the corpse across the living room. She is my person.

You’re my person. And you’ll always be my person.

Hey, would you do me a favour? Please listen to the song once again. But now, I want you to close your eyes and feel the lyrics.

Thank you 🙂

 

 

Izinkan Aku Mencintaimu Sekali Lagi, Indonesia.

 

dirgahayu indonesia

Sumber Gambar : Google.com

 

Kau tahu, terkadang aku berpikir bahwa aku terlahir di negeri yang salah.

Mereka bilang bangsa di negeriku ramah-ramah.

Aku tidak.

Tidak jika kau tak mengenalku dengan baik.

Mereka bilang bangsa di negeriku suka bersosialisasi.

Aku cenderung menghindarinya.

Secara garis besar, aku memiliki sedikit sekali karakter bangsa tanah airku., itulah yang membuatku terkadang merasa “salah tempat”

 

Kau tahu, aku sangat mendambakan kehidupan di negara maju.

Dimana kehidupannya disiplin, taat hukum, toleransi, dan sangat menjunjung tinggi hak dan privasi orang lain.

Kau tahu, aku jarang sekali menemui sikap seperti yang kusebutkan tadi selama ini.

Dan aku merasa jengah.

Aku jengah dengan orang-orang yang sulit untuk disiplin.

Aku jengah dengan hukum yang , yah kau tahulah bagaimana kondisi hukum kita ini.

Aku jengah dengan kata “toleransi” yang menurutku kian hari kian bias maknanya. Mereka menyebutkannya, mengaku bahwa mereka toleran, tetapi secara sikap? Ah, entahlah.

Aku jengah dengan mereka yang masih usil mengusik kepentingan orang lain, yang seringnya, tak ada faedahnya untuk si pengusik.

Aku jengah.

 

Jika kau hanya membaca tulisanku sampai sini, kau pasti berpikir bahwa aku benci menjadi seorang warga Indonesia.

Silakan nilai aku sebagai orang yang tidak nasionalis.

Silakan nilai aku sebagai orang yang tidak mencintai tanah airnya.

Aku sendiri tak tahu bagaimana harus menilai diriku.

Apakah aku mencintai Indonesia

Mungkin “Ya”. Mungkin “Tidak”

Sejujurnya, “Ya” dan “Tidak”

Sejujurnya, hanya ada tiga hal yang “memaksaku” mencintaimu, Indonesia.

 

Yang pertama, budayanya.

Tak pernah sekalipun aku meragukan kekayaan budayamu. Kekayaan yang aku berani jamin, tak dimiliki oleh negara manapun di dunia.

Kau tahu? Betapa aku selalu terpukau saat melihat penari saman beraksi.

Kau tahu? Betapa aku selalu merinding saat pertama kali menyaksikan tari kecak secara langsung.

Kau tahu? Betapa aku selalu bersemangat menggebu-gebu saat paduan suara menyanyikan lagu medley nusantara

Begitulah aku mencintaimu.

 

Yang kedua, alamnya.

Mungkin aku tak pernah dan tak akan pernah menaiki salah satu gunung yang kau miliki.

Aku takut ketinggian.

Mungkin aku tak akan pernah lagi mau diajak snorkeling atau diving di salah satu lautmu yang amat luas.

Aku takut akan luasnya laut.

Mungkin aku tak akan pernah bisa menjelajahi pulaumu yang berjumlah ribuan itu.

Aku bukan orang kaya. Aku tak punya banyak uang untuk mengenalmu pulau demi pulau.

Tapi aku mencintai kekayaan alammu.

Sungguh, meski kadang aku masih membandingkanmu dengan hutan pinus di Alpen, atau dataran-dataran di New Zealand, atau hutan-hutan di Eropa, atau pantai-pantai di Australia.

Jujur, aku tak tahu bagaimana cara membuktikan rasa cintaku akan alam yang kau miliki. Tapi rasanya aku bisa menjaganya tetap lestari.

Begitulah aku mencintaimu.

 

Yang ketiga, Indonesia Raya.

Berterima kasihlah kepada Wage Rudolf Supratman yang telah menyumbangkan salah satu karya terbaiknya untuk dirimu.

Kau tahu? Aku suka menonton pertandingan olahraga.

Dan menurutku, salah satu tempat dimana lagu kebangsaan banyak diputar selain di sekolah dan di instansi pemerintahan adalah di arena olahraga.

Mereka biasa memutar lagu kebangsaan saat pertandingan akan dimulai atau saat upacara kemenangan.

Aku rasa, Indonesia Raya mempunyai sisi magis tersendiri.

Setiap aku mendengarnya, aku merinding. Aku merasa bangga. Dan haru.

Lucu. Saat sekolah dulu sepertinya lagu ini tak berarti apa-apa. Kadang kami merasa “terpaksa” saat kami menyanyikannya di upacara sekolah.

Entah mengapa, kini lagu ini menjadi sakral buatku.

Apalagi setelah aku beberapa kali menyaksikan SEA Games, Asian Games, Olimpiade atau event olahraga besar lainnya.

Aku selalu mendapatkan perasaan haru dari lagu ini.

Begitulah aku mencintaimu.

 

Hai, Indonesia.

Tahun ini genap tujuhpuluh dua tahun usiamu.

Usia yang cukup tua untuk ukuran anak manusia.

Usia yang cukup muda untuk ukuran sebuah negara.

Aku tak bisa memberikan kado apa-apa untukmu.

Aku hanya berharap “kesembuhanmu”

Aku bukan atlet yang bisa menyumbangkan medali emas untukmu.

Aku bukanlah orang yang sangat cerdas untuk dapat membuatmu bangga dengan prestasiku.

 

Hai, Indonesia.

Kurasa aku tak perlu menancapkan sang saka merah putih di salah satu puncak tertinggimu.

Tapi aku berjanji satu hal kepadamu.

Bahwa aku akan belajar untuk mencintaimu.

Sekali lagi.

Maka dari itu, mohon bantu aku.

Buat aku. Ajari aku. Paksa aku.

Izinkan aku untuk mencintaimu lagi, Indonesiaku.

Dirgahayu.

J J J J

 

 

 

 

We Just Passed and Smiled

 

 

 

I think you’re all agreed if I said that one single person can change your entire mood in a day.

Well, It’s just happened to me a few days ago. One person changed my blue feeling into the ehm, I don’t know, I can’t decide what’s exactly my feeling at that time.

Guess what, I just met, well maybe you can say,… my first love. My first crush ever since I was in the primary school.

Can you believe it??

So, let me tell you a story about him.

He was my senior. We shared the same primary school. He was one year older than me. Our first meeting was when we were chosen as what they called “Little Doctor”. I remembered I was the only fourth-grade student who joined that. And we were attending some kind of training. As a younger student, I felt like I don’t belong here. I was awkward and shy. But, he was there. Breaking an ice.

You know, he is a type of boy who clever but annoying. You know, joking and being chatty all the time. Sometimes I think that he such a big head. But, undoubtedly, he made the situation better, that time.

And, there we go. After that, we became close to each other. As friends, of course, we’re still young and don’t understand about an adult relationship. It’s just like, when we met in the corridor or canteen, we called each other. Joking on each other parent’s name, kind of that. It’s happened until the last day of him being a primary student.

The last time I saw him when he ran across my home. It was early morning; I just get up and went outside for some fresh air. It was Saturday or Sunday. When I saw him running, I asked “Where’d you go? The school is off” and he replied “ I’m going to take the entrance test to Junior High School. Wish me luck” and I just said “ You are clever. You’ll make it”

And then he was gone. Since that morning, I never met him anymore. No goodbye. Nothing. He’s just gone with the wind. Until a few months later, I met him. When I was walking to the store, I saw him with his new friends. Wearing those cool junior high school uniform (he entered a kind of elite junior high school). And I thought that he was cool. We passed by, he didn’t call me. Neither do I . we just passed, and smiled. That’s it.

Deep inside, I’m asking.

“Why didn’t he called me?’’ and “Why didn’t I called him”

I don’t know.

It’s just. Looking him with his new friends, they’re looking good. And I felt inappropriate there.  He must be shy, so do I. After that, we never met each other, or at least as long as I can remember. We’re busy with ourself.

That’s it. No sweet memories.

Four years later. I was ready to enter senior high school. Thankfully, I got one of the well-known schools around my area.  On my first day, I just realized that I shared the same school again with him.

Well, I wanna tell you the truth.

I have known that he was in that school long time before I submitted the application to enter that school.

Yes. I chased him.

I don’t know why I chased him. But I did it. I thought, maybe we can be friend again.

This is funny. None of us has ended this friendship or says goodbye. I don’t know why, but I want to start it from the beginning. Like, recreating our friendship.

But, he neglected me again. Every time we met, he just passed and smiled. Nodded his head sometimes. And I never have the courage to call him. Even, I don’t have the courage to look directly into his eyes. I just watching him from far behind.

You know, it’s like there’s a thing in front of you that you supposed to grab, but you can’t. you. Just. Can’t.

I don’t know since when he’s become so big for me. I don’t know why I cared him so much. I don’t know why I can’t forget him. I really don’t know.

I don’t know what is falling in love like. I never have a boyfriend. I’m awkward in front of boys. Even, I don’t know if I ever felt like I’m in love. I don’t know.

Saturday, 29 July 2017, I walked home from campus. I can’t say it’s a good day for me. Because my best friend was absent and I can’t contact him. It’s a little bit bothered me.

So I walked slowly with those dreamy-far-looking as usual. It’s about 300 meters until I reach my home. And there’s where I found him. From that far, I found a familiar figure. You must know, I had a bad eyesight. I have myopia and I can’t see clearly anything in that far distance. Yet, I know it’s him. I still remember his figure, his height, his body shape, his gesture, his face even though I can see it blurry., and the most important thing. I still remember those smile. The thing he gave me every time we met.

When we get closer, maybe about 15 meters. I can see him clearly. And I was right. It’s him. with the same smile as always. And I can say that it’s a big smile.

And again, we just passed and smiled. But I can feel something different this time. Every step when we get closer, there’s some good energy that I felt. I don’t know what it is. Excitement? Enthusiasm? Joy? I don’t know. It’s like, every good feeling comes into one. And he’s saying something. Something I can’t hear. And badly, I can’t read his lips clearly. It’s either he said, “Irma” or “Hi” while he pointing at me.

when we passed. I just smiled. Big smile. And looking excitedly into his eyes directly without blinking!

After we passed, I turned around, watching him walk. You know, I still stood until he’s out of my sight. He never turned his head. I really hoped that he will turn his head.

But I still smiled.

If you saw me that time, I must be looked weird.

That changed my mood in an entire day. I felt indescribably happy.

And that’s the story about two fools who always passed and smiled.

P.S: when I wrote this post, I played my music playlist. And when it’s reached “Keane-Somewhere Only We Know” I don’t know why I can relate to the lyrics. It feels like nostalgic. Please do listen  🙂 🙂 🙂

Keane – Somewhere Only We Know

 

Oh simple thing where have you gone?

I’m getting older and I need something to rely on

So tell me when you’re gonna let me in

I’m getting tired and I need somewhere to begin

And if you had a minute why don’t we go?

Talk about it somewhere only we know

This could be the end of everything

So why don’t we go?

Somewhere only we know.

Apakah Kamu Percaya Peri?

Sebagai gadis yang tumbuh dengan kisah-kisah fantasi, peri bukanlah sesuatu hal yang asing bagi saya. Masing-masing kisah fantasi atau dongeng memiliki caranya sendiri untuk mendeskripsikan sosok peri.

Seperti dalam kisah trilogi Lord Of The Rings, JRR Tolkien menggambarkan sosok peri sebagai makhluk yang menyerupai manusia dengan paras rupawan dan telinga runcing. Rambutnya digerai atau dikepang dengan indah, lengkap dengan tiara diatas kepala sebagai perhiasannya. Dalam trilogi ini, peri merupakan sosok bijak yang memiliki bakat di bidang pengobatan dan penempaan pedang. Mereka juga digambarkan sebagai sosok yang mencintai alam.

Sementara dalam dongeng Disney, peri digambarkan sebagai makhluk berukuran mungil yang menyerupai manusia lengkap dengan sayapnya yang indah. Setiap peri dalam dongeng Disney memiliki tugasnya masing-masing, yang kebanyakan adalah menjaga alam(silahkan nonton Tinkerbell jika ingin tahu lebih lanjut tentang tugas-tugas peri).

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kalian percaya bahwa mereka nyata?

Tentu tidak.

Kita bukanlah anak berusia lima tahun yang mudah terpengaruh oleh dongeng. Bahkan, di era milenial seperti sekarang ini, saya ragu apakah masih ada anak-anak yang dengan lugunya mempercayai semua dongeng itu layaknya saya kecil dahulu. Saya rasa tidak. Zaman telah berganti. Teknologi telah menggeser kisah-kisah fantasi. Sepertinya dongeng sebelum tidur bukan lagi sebuah rutinitas yang dinanti.

Lalu, untuk apa postingan ini dibuat?

Well, terlepas dari semua kisah fantasi atau dongeng yang saya baca. Saya ingin kalian meyakini bahwa ada satu peri yang nyata. Peri yang mungkin ada di sekitar kita.

Tak terlihat.

Tak bersayap.

Tanpa tiara.

Sebenarnya mereka tak ubahnya seperti kita.

Tugas mereka tidak berkaitan dengan pergantian musim atau mengembalikan barang yang hilang seperti Tinkerbell.

Tugas mereka adalah menyebarkan kebaikan dalam bentuk lain.

Dan mereka disebut dengan peri buku (book fairy)

P_20170613_105802.jpg

Book fairy atau peri buku adalah sebuah reading campaign yang pertama kali dicetuskan oleh aktris favorit saya, Emma Watson.. Emma memulai project ini  dengan meninggalkan buku karya Maya Angelou yang berjudul How To Be A Woman di London Underground pada perayaan Hari Perempuan Sedunia lalu. Kini, project ini telah menyebar ke hampir 26 negara, termasuk Indonesia.

Mengapa saya tertarik dengan campaign ini?

Well, yang pertama, karena saya sangat mencintai buku. Buku tidak pernah mengecewakan saya. Bagi saya buku adalah bagian dari relaksasi jiwa. Adalah suatu kepuasan tersendiri saat saya melihat tumpukan buku yang baru disusun atau saat saya menyusuri rak-rak buku di perpustakaan atau toko buku.

Dan yang kedua, yah yang ini sedikit memprihatinkan. Apakah kalian tahu? Menurut studi  Most Littered Nation In The World 2016  minat membaca penduduk Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara. Bagi saya, ini sangat menyedihkan.

Untuk itulah saya mengikuti campaign ini. Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang di sekitar saya, bahwa membaca itu sangat menyenangkan. Saya ingin berbagi kisah, pengetahuan dan petualangan. Saya ingin kalian bisa merasakan ajaibnya kata-kata dari setiap buku yang akan kalian baca.

Buku itu benda yang sangat ajaib. Dia bisa membuatmu tertawa, menangis, dan marah dalam satu waktu. Dia bisa membawamu ke sebuah medan perang tanpa perlu takut kau akan terluka. Dia bisa membawamu ke dalam sebuah kisah petualangan yang seru tanpa harus merasa lelah. Dia bisa membawamu kemanapun kau mau.

Oh ya, jika kalian tertarik dengan campaign  ini, caranya cukup mudah. Kalian tinggal mengakses situs http://www.ibelieveinbookfairies.com lalu order stikernya. Mereka akan mengirimkan stiker book fairy  yang harus kalian tempelkan ke buku yang akan kalian bagikan. Mudah bukan? Untuk info lebih lanjut kalian bisa mengunjungi situs tersebut atau akun instagram mereka : @bookfairiesworldwide atau @bookfairies_indonesia_jkt

P_20170629_141842

Stiker Book Fairy yang saya dapatkan.

Jadi, jika seseorang bertanya kepada saya : Apakah kamu percaya peri?

Tanpa ragu saya akan menjawab :

Saya percaya kepada peri buku!

Piala Yang Terus Mengembara

Screenshot_20170518-193106

Teman-teman sekalian, apakah kalian mengenali piala di atas?
Apakah kalian tahu apa bentuk bagian atas dari piala tersebut?

Bagi kalian pecinta bulutangkis, saya rasa kalian tahu jawabannya.

Ya, itu adalah Piala Sudirman dan bentuk bagian atas piala tersebut adalah Candi Borobudur.

Kejuaraan Sudirman adalah pergelaran bulutangkis bergengsi dua tahunan, namanya sendiri diambil dari salah satu pendiri PBSI yaitu Dick Sudirman. Kejuaraan ini pertama kali digelar pada tahun 1986 di Indonesia dimana kitalah yang menjadi kampiunnya.

Gelar pemenang Kejuaraan Sudirman satu-satunya.

Sejak tahun 1986 piala itu tak kunjung kembali ke pelukan ibu pertiwi, rupanya dia gemar mengembara ke negara lainnya. Dia sangat betah di pelukan negeri Tiongkok, tak tanggung-tanggung, dia sudah mampir ke negeri tirai bambu itu sebanyak sepuluh kali.
Tidakkah engkau rindu kepada kami, Pak? Tanah kelahiranmu. Tempat dimana dirimu berasal. Sudah tiga puluh satu tahun kau mengembara, kami pikir tahun ini adalah tahun dimana kau akan pulang ke pelukan ibu pertiwi.

Tapi ternyata tidak.

Atau belum.

Menang Tapi Kalah

Kita memenangkan pertandingan, tapi kita kalah dalam perang.

Skor akhir 3-2 tidak cukup untuk mengantar kita ke babak perempat final. Untuk pertama kalinya, Indonesia tersingkir di penyisihan grup kejuaraan sudirman. Sebuah catatan yang tak bisa dibanggakan setelah track record kita selama ini cukup baik.

Sepertinya kami harus menahan rindu kami lebih lama lagi ya, Pak. Rupanya Bapak belum mau diajak pulang oleh putra-putri terbaik kita saat ini. Rupanya Bapak masih ingin mengembara lagi. Bapak pasti ingin melihat putra-putri kita berusaha lebih keras lagi, ya kan?

Ada rasa sedih, kecewa dan marah saat putra-putri terbaik kami gagal membawamu pulang. Terlebih kami harus dua kali dikalahkan oleh lawan yang sama di kejuaraan beregu yang berbeda (Saya masih susah move on dari hasil final Piala Thomas 2016 antara Indonesia dan Denmark). Rasanya seperti membuka luka lama.

Mereka bilang ini adalah skuad terbaik Indonesia. Saya setuju dengan pernyataan ini.
Mereka bilang kita harus beregenerasi dengan pemain muda, lagi-lagi saya setuju dengan pernyataan ini. Dan inilah buktinya. Hampir separuh (atau mungkin lebih) dari skuad Indonesia berisi pemain-pemain muda.

Absennya nama Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir menjadi awal proses regenerasi kita. Setelah sekian tahun kedua nama tersebut selalu menjadi garda terdepan skuad kebanggaan kita, kini kita harus mulai terbiasa tanpa nama mereka. Inilah proses.

Kemarin, sebelum saya menyaksikan laga penentuan antara Indonesia dan Denmark, saya sempat pesimis. Jujur, saya sangat pesimis. Melihat jajaran pemain yang diturunkan Denmark, hampir semuanya pemain yang bertengger di 10 besar dunia. Pemain-pemain senior dengan segudang prestasi dan pengalaman. Saya pikir kita tidak akan bisa mengalahkan mereka.

Untungnya saya salah. Ternyata saya terlalu mengunderestimate kemampuan putra-putri terbaik kita. Mereka tampil diluar prediksi saya. Dan itu membuat saya sangat bangga. Kejuaraan Sudirman 2017 ini benar-benar membuka mata saya akan potensi yang dimiliki Indonesia. Melihat mereka bertanding kemarin membuat saya percaya, bahwa kita masih bisa menjadi juara, jika kita mau berusaha.

I believe they can, because they’re firework.

Baby, you’re a firework.
Come on show ‘em what you’re worth
Make ‘em go “oh oh oh”
As you shoot across the sky

Tunjukkan kehebatanmu, buat mereka terpukau saat kau berada di puncak tertinggi.

Kepada seluruh tim, terima kasih sudah berjuang. Jadilah kembang api kebanggaan Indonesia.

Untuk Piala Sudirman, selamat mengembara lagi, Pak.

Lihatlah dunia sebelum kembali ke pelukan ibu pertiwi dua tahun lagi.

Being A Legend

P_20170516_182056\

I’ve been reading books of old

The legend and the myths
Archilles and his gold
Hercules and his gifts
Spiderman’s control
And Batman with his fists
And clearly, I don’t see myself upon that list

Something Like This – The Chainsmokers ft Coldplay

****

Have you ever thought about how you’re gonna be remembered when you’re gone?

Me? Frequently.

That song above randomly played on my Youtube playlist. Not the one which is being popularised by The Chainsmokers and Coldplay. But the one which is sung by cover artist Madilyn Bailey and Alex Goot. I never like the original version of this song (Please forgive me, Chris Martin. LOL).

Idk why, maybe because it’s too EDM. It’s not my genre, actually. But when I heard the very first tune of Madilyn’s, I fell in love. It is like, she is singing right to my heart, and I’m really touched by the lyrics. It is so deep and meaningful. Did you feel this song like the way I did?

Back to my first question, have you ever thought about how you’re gonna be remembered when you’re gone?

When Michael Jackson died, everyone will remember him as King of Pop.

When Alan Rickman died, everyone knows that he was perfectly played Professor Snape in Harry Potter

When JRR Tolkien died, everyone memorize him with his masterpiece “The Lord Of The Rings”

How me? How about you? How about the ordinary people just like us? What is your biggest achievement? What is your greatest compliment?

Be a legend, like this song told you.
Archilles and his gold. Hercules and his gifts. Spiderman’s control. Batman with his fists.

I never did something’s proud of myself. I have no talent and I have nothing to be proud of. Or yet. This makes me wonder. One day, when I’m dead. No one will remember me except my family and my friends, I guess. People won’t talk about me. Or worst, people will never know that I have alive. This is miserable.

She said, “Where’d you wanna go? How much you wanna risk?”

I wanna be remembered. I wanna be a legend. But, how can I do that? Am I brave enough to take a risk in order to fulfil what I want?

I was a girl with a big dream. Was. As I grew up, the reality had killed my dream piece by piece. Till I’m too afraid to have another big dream. How cruel it is, right?

I want something just like this

Slowly, I begin to build my confidence once again. I’m ready to build my big dream once again.I want to be a writer. I won’t stop writing. I missed writing so much. I’,m really regretted to let my job buried my writing skill. I think, this time, I’m ready to take a risk. I’m ready to sacrifice what I must sacrifice to fulfil my dream.

I wanna be a legend for myself. One day, I will have a book with my name written on the first page, either as an author or a translator.

Oh, by the way, please enjoy Madilyn’s Cover of Something Like This.

Something Like This – Madilyn Bailey and Alex Goot Cover

Cahaya Purnama di atas Balaikota

IMG_20170510_070439

 

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

*********

Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki selalu menjadi lagu nasional favorit saya. Selain iramanya yang indah, liriknya juga sangat mencerminkan Indonesia. Sudah cukup sering saya merasa terharu saat mendengarkan paduan suara menyanyikan lagu ini. Indah dan megah.

Lagi-lagi saya terharu dibuatnya, baru-baru ini. Kala menyaksikan video dari sekumpulan orang yang menyanyikan lagu ini di balaikota beberapa hari yang lalu. Entah kenapa saya merinding. Saya terbawa atmosfer, seolah-olah saya berada di sana.

Memang tak sesempurna saat saya mendengar lagu ini di paduan suara dulu. Beberapa dari sekumpulan ini mungkin buta nada, beberapa orang lagi mungkin tak pernah bernyanyi di muka umum seperti ini. Tapi bukan itu esensinya. Jika kita menilik lebih jauh, memperhatikan lebih dalam, sekumpulan ini mungkin tak saling mengenal satu sama lain, berbeda latar belakangnya, entah apakah mereka pekerja profesional, pekerja lepas, atau hanya orang yang sekedar lewat namun menyempatkan mampir karena penasaran.

Perbedaan. Keanekaragaman. Itu esensinya.

Mereka yang tak saling mengenal, tua-muda, pria-wanita, pribumi-keturunan, mereka semua bersatu padu untuk memberikan dukungan kepada orang yang mereka cintai. Kini tak tampak perbedaan bagi saya, sekumpulan orang itu sama. Mereka adalah orang-orang yang mendukung.

Pak Basuki Tjahaja Purnama, what the world have done to you?

Saya tak pernah mengerti tentang politik atau hukum. Pendidikan kewarganegaraan bukanlah pelajaran favorit saya dulu. Tapi saya rasa saya tak perlu menjadi seorang ahli politik atau ahli hukum untuk dapat mengagumi Bapak.

Entah kenapa hati saya sedih sekali kala mendengar vonis Bapak.

Saya memang bukan warga Bapak, tapi saya turut menikmati hasil kerja Bapak. Setiap Senin sampai Jumat saya menyambangi Jakarta, melalui beberapa tempat yang merupakan buah karya Bapak. Entah kenapa saya merasa senang. Mungkin kini, saat saya melewati tempat-tempat itu untuk kesekian kalinya, perasaan yang ditimbulkan berbeda. Sedih dan menyangkal.

Mengapa?

Mengapa sulit sekali mendapatkan maaf dari mereka? Mengapa hal seperti ini harus menimpa Bapak? Mengapa hasil kerja Bapak selama beberapa tahun terakhir seolah tertutup oleh satu kesalahan.

Kemarau setahun terhapus hujan sehari. Begitu pepatahnya bukan?

Kalian lihat gambar di atas? Sketsa itu dibuat oleh salah satu pengguna Twitter dengan username @motulz. Saya jatuh cinta dengan gambar itu sejak pertama melihatnya. Entah kenapa terasa begitu dalam maknanya. Terima kasih untuk Mas Motulz untuk gambar indahnya dan mengizinkan saya untuk memposting gambar tersebut di blog ini.

Pak, saya tahu Bapak pasti tegar. Bapak pemberani. Bapak memiliki hati yang besar. Bapak adalah ksatria. Tolong jaga agar kepalamu tetap tegak, Pak. Bapak tahu bahwa Bapak tak pernah sendirian.

Teruntuk Ibu Vero, Nicholas, Tania dan Daud. Tolong, jangan pernah menyalahkan siapapun karena terlahir dengan apa yang “mereka” sebut “minoritas”. Jujur, saya sekarang agak sensitif dengan kata “Mayor” dan “Minor”. Bagi saya semua sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Mengutip dari salah satu pengguna Twitter lagi yang saya lupa apa usernamenya, yang isinya :

” Dalam tangga nada, bila nada mayor dan nada minor disatukan, akan menciptakan harmoni yang indah. Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Mengapa kita tidak membuat Indonesia menjadi lagu yang indah? Bagaimama menurutmu?”

Nicholas, Tania dan Daud, saya percaya ayah kalian selalu mengajarkan bagaimana untuk bersikap ksatria. Tegarlah, kuatlah, bangkitlah. Jangan pernah benci siapapun karena masalah ini. Jadilah ksatria.

Tuhan kita berbeda, tapi saya rasa kita setuju kalau Tuhan di semua agama mengajarkan kebaikan kan, Pak? Untuk itu saya akan selalu berdoa agar Dia selalu melindungi, memberi kesehatan dan ketabahan bagi Bapak dan keluarga. Amin.

Cahaya purnama di atas balaikota menjadi saksi bagaimana salah satu putra terbaik bangsa terluka.

Cahaya purnama di atas balaikota menjadi saksi bahwa masih ada banyak orang yang mendukungnya.

Tuhan, tolong jaga agar cahaya purnama itu tetap ada.

Tiga Cup Es Krim Vanilla

mcflurry

 

Enam Mei Dua Ribu Tujuhbelas.

Di Sabtu siang nan terik, ketiga sahabat berjalan memasuki sebuah gerai makanan cepat saji. Merasa tak begitu lapar, ketiganya hanya membeli es krim. Sementara yang dua sibuk mencari meja yang kosong, yang satu lagi antri di konter pemesanan.

Terlintas di pemikiran yang satu, sepertinya akan lebih asyik jika ada sesuatu untuk dimakan. Kemudian dia menambahkan seporsi kentang goreng ke dalam pesanannya. Tak lama kemudian, ketiganya duduk.

Awalnya terasa canggung, di tengah keramaian orang yang tengah menyantap makan siang itu, ketiganya tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Tak lama kemudian, datanglah yang keempat. Mampir menghampiri ketiganya dengan dalih menunggu dijemput sang belahan jiwa. Dia merupakan seorang teman. Dia adalah teman yang ketiganya sudah anggap layaknya seorang kakak. Syukurlah dia datang, ketiganya jadi punya sesuatu untuk dibahas. Kemudian ketiganya menjadikan yang keempat seolah-olah bintang tamu.

Namun yang keempat tidak berlama-lama tinggal, sang belahan jiwa telah menantinya.

Sepeninggal yang keempat, pembicaraan mengalir begitu saja. Sambil sesekali menyendok es krim atau mengunyah kentang goreng, bergantian ketiganya bercerita. Yang dua orang bercerita, betapa mereka mulai bosan menjalani bangku perkuliahan. Betapa mereka mulai dihinggapi rasa jenuh kala mengejar titel sarjana. Sementara yang satu mulai jengah dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang sesungguhnya tidak diminatinya sama sekali. Sesungguhnya yang dicintainya adalah buku dan hewan dan musik dan dunia panggung pertunjukkan.

Tapi yang satu ini terlalu takut untuk meninggalkan pekerjaannya yang sekarang. Sesungguhnya yang satu sangat iri kepada kedua temannya ini. Dia sangat iri akan bagaimana kedua temannya ini bisa memiliki waktu khusus untuk dirinya sendiri, tanpa harus khawatir memikirkan apapun yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Yang satu kini sudah berusia dua puluh dua tahun, tetapi jarak paling jauh yang pernah dicapainya seorang diri hanyalah sebatas Tangerang Selatan saja. Dan hatinya mulai gundah. Mulai berontak. Mulai menyuarakan bahwa sudah saatnya menjadi diri sendiri. Mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tanpa disadari oleh kedua temannya yang lain, mereka sudah memberikan keberanian kepada yang satu ini.

Obrolan berlanjut, menerawang jauh ke masa depan. Tentang bagaimana kami akan menghabiskan waktu bersama pasangan kita kelak. Tentang bagaimana menyenangkannya bila kita memiliki pasangan dengan kesamaan minat dan hobi. Kemudian ketiganya mengkhayal.

Yang satu berharap agar Ia dan pasangannya kelak bisa melakukan pendakian gunung bersama.

Yang satu berharap agar Ia dan pasangannya senang diajak berbelanja dan berwisata kuliner layaknya dirinya.

Yang satunya lagi berharap agar Ia dan pasangannya kelak bisa diajak “menggila” akan hal yang mereka sukai.

Mereka bisa nonton pertunjukkan sampai terhanyut ke dalam ceritanya, kemudian terjaga sampai pagi sambil mengulang keseluruhan pertunjukkan itu secara verbal. Yang satu ini memang pengkhayal tingkat tinggi. Dan dia ingin mewujudkan khayalannya itu bersama pasangannya kelak.

Tapi kemudian ketiganya menyadari satu hal, bahwa sejatinya pasangan itu harus saling melengkapi perbedaan. Terkadang terlalu banyak persamaan justru akan menumbuhkan sifat destruktif. Satu hal yang dimengerti oleh ketiganya adalah ; bahwa sejatinya pasangan itu adalah seseorang yang selalu mendukungmu, tak peduli seberapa jauh perbedaan itu.

Begitulah, tiga cup es krim vanilla dan seporsi kentang goreng menjadi saksi curahan hati ketiga gadis remaja akhir ini. Masing-masing dari mereka mengutarakan masalahnya, namun tak seorangpun yang menawarkan solusi. Kadang memang yang kita semua cari bukanlah solusi. Melainkan tempat, waktu dan sosok  yang mau mendengarkan tanpa perlu dikomentari atau merasa terhakimi. Kadang yang kita butuhkan hanyalah didengarkan. Dan kadang yang mereka harus lakukan hanyalah mendengarkan.

Yang satu sangat berterimakasih kepada kedua lainnya yang bersedia mendengarkan. Yang satu akan selalu menunggu momen seperti ini di lain kesempatan. Entah apa yang akan menjadi saksinya kelak. Apakah cup-cup es krim yang lain? Atau justru semangkuk mie rebus yang menghangatkan? Kita tak tahu. Dan tak akan pernah tahu sampai momen itu tiba.

 

*Postingan ini didedikasikan untuk Novia Jayanti dan Kirana Atika Rahmadani karena telah menjadi pendengar yang baik untuk yang satu*